Senin, 11 April 2011

Laporan Observasi Asesmen ABK

LAPORAN OBSERVASI
ASESMEN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah asesmen anak berkebutuhan khusus
Dosen pengampu:
Dr. Haryanto

UNY

Disusun oleh:
Retno Dwi Pawestri
PLB A_2009
09103241025

JURUSAN PENDIDIKAN LUAR BIASA
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2010

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pelaksanaan pendidikan di beberapa sekolah khususnya sekolah luar biasa belum dipertimbangkan sesuai dengan kebutuhan anak, masalah, dan kemampuan anak. Guru cenderung hanya mengejar keterlaksanaan apa yang ditargetkan dalam kurikulum semata. Padahal, cirri khas dalam penyelenggaraan pendidikan anak berkebutuhan khusus adalah selalu berorientasi pada kebutuhan anak. Layanan pendidikan lebih ditekankan kepada layanan individual. Hal ini dikarenakan kebutuhan dan kemampuan setiap anak berbeda- beda. Layanan pendidikan yang diberikan harus sesuai dengan kebutuhan, masalah, dan kemampuan anak.
Dalam upaya memahami masalah dan kebutuhan anak berkebutuhan khusus, seorang guru  membutuhkan data yang akurat berkenaan dengan kebutuhan dan masalah yang dihadapi setiap anak didiknya. Untuk dapat menggali data dan informasi tentang kebutuhan dari masalah yang dihadapi anak, guru dapat melakukannya melalui kegiatan yang disebut asesmen. Asesmen dapat dipandang sebagai suatu upaya pengumpulan informasi yang akan digunakan untuk membuat pertimbangan dan keputusan yang berhubungan dengan anak. Untuk itu, asesmen sangat penting untuk dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dalam merencanakan program pembelajaran bagi anak.

B.     Rumusan masalah
·         Bagaimana cara pelaksanaan asesmen untuk anak berkebutuhan khusus?

C.     Tujuan
·         Untuk mengetahui dan memahami cara pelaksanaan asesmen anak berkebutuhan khusus.

D.    Pelaksanaan Observasi
Tempat            : SLB Bina Siwi
Alamat                        : Sendangsari  Pajangan Bantul Yogyakarta
Hari/ tanggal   : Sabtu/ 25 Desember 2010
Waktu             : Pukul 08.00 s/d 11.00 WIB

E.     Metode
1.      Observasi
Dengan melakukan pengamatan- pengamatan terhadap anak saat  proses pembelajaran di sekolah dan juga contoh- contoh hasil pekerjaan anak.
2.      Wawancara
Dengan mewawancarai guru yang mengajar anak di kelas.
3.      Angket
Instrumen angket untuk diisi oleh guru dengan memberikan daftar check list pada pertanyaan- pertanyaan yang ada.









BAB II
KAJIAN TEORI
A.    Pengertian Asesmen
Istilah asesmen berasal dari bahasa Inggris yaitu assessment yang berarti penilaian suatu keadaan. Jadi, asesmen anak berkebutuhan khusus adalah penilaian kemampuan anak berkebutuhan khusus. Menurut Mulliken & Buckely, 1983 ( dalam Moh. Amin, 1995) asesmen merupakan usaha untuk menghimpun informasi yang relevan guna memahami atau menentukan keadaan individu. Dalam bidang pendidikan, asesmen merupakan berbagai proses yang rumit untuk lebih melengkapi hasil tes. Sedangkan (Endang Rochayadi, 2005) menyatakan bahwa asesmen adalah proses sistematis dalam mengumpulkan data seorang anak. Dalam konteks pendidikan, asesmen  berfungsi untuk  melihat kemampuan dan kesulitan yang dihadapi anak saat itu sebagai bahan untuk menentukan apa yang sesungguhnya dibutuhkan. Dari beberapa pengertian asesmen di atas dapat disimpulkan bahwa asesmen adalah proses sistematis dalam menghimpun informasi yang relevan guna memahami keadaan individu atau melihat kemampuan serta kesulitan yang dihadapi anak sebagai bahan untuk menentukan layanan pendidikan yang dibutuhkan anak.

B.     Langkah- langkah Asesmen
Dalam  penyusunan asesmen ini ada beberapa tahapan yang meliputi kegiatan identifikasi, tujuan asesmen, pengembangan alat asesmen, pelaksanaan, dan penafsiran hasil asesmen.
1.      Identifikasi
Identifikasi di sini adalah menentukan anak berkebutuhan khusus yang akan diasesmen. Identifikasi dapat dilakukan melalui pengamatan/ observasi yang cermat mengenai perilaku anak saat bel;ajar dan menganalisis hasil kerja anak. Identifikasi harus menghasilkan siapa yang akan diasesmen dan dalam aspek apa asesmen itu perlu dilakukan.
2.      Menetapkan tujuan
Setelah hasil identifikasi diketahui, selanjutnya ditetapkan tujuan asesmen yang akan dilakukan. Tujuan asesmen setiap murid akan sama atau berbeda tergantung pada gejala yang ditemukan pada waktu identifikasi.
3.      Mengembangkan Alat Asesmen
Untuk melakukan asesmen guru dapat menggunakan alat asesmen yang sudah baku (asesmen formal) atau alat asesmen buatan sendiri (asesmen informal).
Dalam asesmen informal, guru harus mengembangkan alat asesmen sendiri. Alat asesmen ini disesuaikan dengan kurikulum.
4.      Pelaksanaan asesmen
Guru melakukan asesmen sesuai dengan aspek yang akan diasesmen dalam waktu dan di tempat tertentu. Waktu yang digunakan dalam melakukan asesmen disesuaikan dengan alat yang dikembangkan serta disesuaikan dengan kemampuan anak dalam memusatkan perhatian sesuai usianya. Misalnya usia kelas satu SD, lama tes sebaiknya tidak lebih dari 30 menit (Widati S,2003: 5). Tes yang diberikan lebih dari 30 menit tidak akan memberikan informasi yang akurat tentang kemampuan anak karena perhatian anak sudah terpecah.
Dalam pelaksanaan asesmen penting pula untuk diperhatukan dalam menciptakan ruangan atau tempat asesmen yang kondusif. Tempat asesmen harus terhindar dari hal- hal yang dpat mengganggu perhatian anak sehingga tempat asesmen itu menjadi nyaman dan menimbulkan rasa nyaman bagi anak.
5.      Penafsiran
Setelah melaksanakan asesmen, tahap selanjutnya adalah guru mengolah hasil asesmen dan menafsirkannya. Dalam kegiatan inilah akhirnya guru mengambil keputusan untuk menentukan pembelajaran yang tepat untuk anak berkebutuhan khusus. Kegiatan penafsiran ini cukup menetukan, jika penafsiran keliru, maka program pembelajaran yang dikembangkan akan keliru pula.
Hasil asesmen ini harus dikaitkan pula dengan kurikulum. Lihatlah materi pelajaran yang sesuai dengan jenjang kelas dimana anak berada. Apabila pada kurikulum itu tidak ditemukan materi yang sesuai dengan hasil asesmen maka harus dicari pada jenjang di bawahnya, jika masih belum ditemukan juga cari kembali pada jenjang di bawahnya lagi, demikian seterusnya, hingga ditemukan materi yang sejalan dengan hasil asesmen.





BAB III
PEMBAHASAN

A.    Identitas/ Informasi Anak
1.      Nama                 : Ruwanti
Jenis kelamin      : Perempuan
TTL                    : Bantul, 29 November 1998
Agama               : Islam
Pendidikan         : kelas III SD
Jenis kelainan     : Tunagrahita
Anak urutan ke  : 4 dari 4 bersaudara
Orang tua
Nama Ayah        : Mardi Jiman
Usia                    : 72 tahun
Agama               : Islam
Pendidikan         : -
Pekerjaan           : Buruh tani
Alamat               : Beji wetan, sendangsari, pajangan, bantul
Nama Ibu           : Sumiyah
Usia                    : 62 tahun
Agama               : Islam
Pendidikan         : -
Pekerjaan           : Buruh tani
Alamat               : Beji wetan, sendangsari, pajangan, bantul



2.      Nama                 : Waldi Jumiyanto
Jenis kelamin      : Laki- laki
TTL                    : Bantul, 10 Oktober 2002
Agama               : Islam
Pendidikan         : kelas III SD
Jenis kelainan     : Tunarungu
Anak urutan ke  : 2 dari 2 bersaudara
Orang tua
Nama Ayah        : Walijan
Usia                    : 37 Tahun
Agama               : Islam
Pendidikan         : SD
Pekerjaan           : Buruh tani
Alamat               : Beji wetan, sendangsari, pajangan, bantul
Nama Ibu           : Nasibatun
Usia                    : 37 tahun
Agama               : Islam
Pendidikan         : SD
Pekerjaan           : Buruh tani
Alamat               : Beji wetan, sendangsari, pajangan, bantul


B.     Gejala Yang Nampak
1.      Ruwanti (Anak  Tunagrahita)
Ciri- ciri fisik yang ada pada anak adalah wajahnya seperti anak mongoloid/ kembar sedunia, bentuk kepala dan badannya pun tidak seimbang(kepala besar). Perkembangan sosial emosionalnya masih kurang stabil. Ia mudah marah apabila diganggu oleh temannya. Ia akan segera mencubit atau memukul jika ada temannya yang menjailinya. Di sekolah, anak ini agak pemalu. Terutama jika bertemu dengan orang asing/ orang yang baru dikenalnya. Ia akan menundukkan kepalanya saat diajak berbicara oleh orang asing. Dalam kesehariannya, ia berbicara dengan         Bahasa Jawa. Proses pembelajarannya pun menggunakan Bahasa Jawa karena anak ini tidak dapat memahami apa yang diajarkan apabila menggunakan Bahasa Indonesia. Apabila diajak bercakap- cakap, ia hanya akan menjawab seperlunya saja, sebatas satu atau dua kata. Pengucapannya pun tidak terlalu jelas. Mata pelajaran yang paling ia sukai adalah menggambar dan mewarnai. Ia masih kesulitan untuk menulis macam- macam bentuk huruf, mengenal tanda baca, dan masih sangat kurang dapat mengenal lambang bilangan.

2.      Waldi Jumiyanto (Anak Tunarungu)
Tingkat ketulian anak ini sampai sekarang belum diketahui karena ia belum pernah di periksakan. Hal ini disebabkan oleh kondisi perekonomian keluarganya yang kekurangan. Dalam kesehariannya di sekolah, ia masih sulit untuk diajak berkomunikasi. Dalam menggunakan bahasa isyarat saja anak ini belum terlalu lancar. Dibutuhkan waktu lama bagi anak ini untuk mengerti maksud ucapan dari orang yang mengajaknya berbicara. Saat diajak berkomunikasi, ia masih sangat sulit untuk menangkap isi pembicaraan dan ia masih belum lancar dalam mengemukakan keinginannya/ idenya. Sedangkan dalam berbicara, artikulasi anak ini masih belum jelas dan pengucapan kata- katanya pun belum lancar. Perkembangan sosial emosional anak ini masih kurang stabil. Ia termasuk anak yang hiperaktif.  Di kelas, ia sangat suka menjaili teman- temannya. Tingkahnya terkadang membuat teman dan gurunya kewalahan. Mata pelajaran yang sulit diikuti Waldi adalah Bahasa Indonesia dan matematika dalam hal pengukuran. Untuk Bahasa Indonesia, ia masih kurang lancar dalam menulis. Tulisannya pun tidak terlalu bagus. Ia juga merasa kesulitan dalam memahami makna dari sebuah kalimat ataupun bacaan

BAB IV
PENUTUP

A.    Kesimpulan
1.      Asesmen adalah proses sistematis dalam menghimpun informasi yang relevan guna memahami keadaan individu atau melihat kemampuan serta kesulitan yang dihadapi anak sebagai bahan untuk menentukan layanan pendidikan yang dibutuhkan anak.
2.      Langkah- langkah asesmen anak berkebutuhan khusus:
·           Identifikasi
·           Menetapkan tujuan asesmen
·           Mengembangkan alat asesmen
·           Pelaksanaan asesmen
·           Penafsiran

B.     Saran
1.      Pelaksanaan asesmen hendaknya memfokuskan kepada informasi yang relevan, sehingga dapat menghemat waktu dan tenaga
2.      Pelaksanaan asesmen hendaknya menggunakan kolaborasi antara tim ahli dengan orang tua sehingga hambatan- hambatan yang dialami anak dapat diketahui dan dipahami dengan jelas.






DAFTAR PUSTAKA

Endang Rochyadi. 2005. Pengembangan Program Pelaksanaan Individual Bagi Anak Tunagrahita. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Moh. Amin. 1995. Ortopedagogik Anak Tunagrahita. Bandung: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.










2 komentar:

  1. makasih ya udah bantu aku menyusun laporan assesmen...^_^ lam kenal dariku,..

    BalasHapus
  2. terimakasih, sangat membantu

    BalasHapus